Minggu, 13 September 2015

siapa itu Nurani?

Sering ngobrol sama orang lain?
Sesering apa dirimu berkonsultasi dengan orang tua, sahabat atau teman2mu?
Tetapi pernahkan dirimu bertanya jawab dengan hati nurani mu?
Dahulu sering aku bertanya, bagaimana bisa kita mendengarkan hati nurani?
Seperti apa kata hati nurani?

Cobalah, pejamkan matamu, rilekskan tubuhmu, tanyakan sesuatu hal yang bingung kau lakukan bersamaan dengan menghirup napas.
Jawab langsung saat kamu menghembuskan napas..
Dialah sang hati nurani yang berbicara..
Aku sebut hal ini sebagai langkah mengevaluasi diri,
Untuk menjadi orang yang lebih baik..berusaha menjadi lebih baik.. lebih baik, dan lebih baik

Ya.. rata-rata pertanyaan yang sering kuajukan adalah
1. Apakah aku sudah berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yang Maha Kuasa?
tetrkadang jawaban meluas menjadi bermacam-macam,seperti kalo aku ni ... aku berdoa bersungguh-sungguh sampai berlinang air mata jika aku sedang dalam keadaan terhimpit dan sedang dalam kesulitan, disaat itu aku benar-benar bersimpuh dan merasa dekat dengan Tuhan. Namun jika tidak,doa setelah beribadah tak sekhusyuk jika aku sedang dilanda kesulitan,dan blablabla..
2. Apakah aku benar-benar telah berbakti dan membuat bahagia kedua orang tuaku?
3. Apakah aku selalu mendengar hati nurani sebelum bertindak?
4. Apakah aku telah memaafkan orang-orang yang sudah menyakitiku? jika belum siapa sajakah mereka? Mengapa aku belum memaaafkannya?
Terkadang hati nurani akan terus berbicara, seolah hati nurani adalah sosok orang yang sangaaatt bijak.
5. Dan lain-lain (pertanyaan lainbisa kamu tambahkan sendiri)

Andai kau tahu teman, hati nurani itu tak pernah salah. Dia selalu baik. Apapun pertanyaan yang ingin kau tanyakan, akan terus dijawab dengan benar.
Tidak untuk pertanyaan soal2 ujian ya sob, hhihi... Kalo itu sih kembali lagi ke diri kita, bagaimana kita harus belajar, dan terus belajar.

Minggu, 24 Mei 2015

cerpen pembersihan harta

Malam sabtu itu, perasaanku sudah mulai tak karuan. Makan tak enak, apalagi untuk tidur malam. Sejak siang hari rona wajah Ayah juga tak seperti biasa. Layaknya ada sebuah beban pikiran yang menggantung berat di ubun-ubun kepalanya.

Rumahku yang terlihat asri, dipenuhi bunga-bunga dan tanaman buah serta air mancur yang terus mengalir di kolam tak serta merta menenangkan emosi hatiku. Lihat saja, rumah yang terletak hampir di tengah ladang, dengan sisi utara sampai sisi barat berderet bukit-bukit gunung Rinjani yang terkenal jadi tempat pendakian anak-anak para pecinta alam masih tak cukup untuk sang hati. Suasana sunyi, sepi, dan menenangkan. Tak ada kendaraan lalu lalang terkecuali tukang sayur atau kendaraan pribadi yang bisa dihitung jari.

Hari sudah mulai gelap. Suara-suara berisik musang yang berkeliaran di atas atap menambah gaduh malam itu. Aku pun langsung menutup jendela kamarku yang langsung mengarah ke ladang, melalui pintu belakang dan mengunci pintunya dua kali.

Aku juga merasakan hal yang aneh beberapa hari ini. Entah memang aku bisa merasakan yang tak orang lain rasakan atau hanya perasaanku saja. Sore itu saat Ayah menemui tamu di teras, sesekali aku melihat orang menengok ke arahku. Sedangkan tamu ayah jelas-jelas duduk manis di kursinya. Tak ada orang lain lagi. Aku pikir aku sedang lelah.

"Ma, malam ini kita makan apa? Aku mau cepat-cepat untuk segera tidur"
"Masih ada sayur rawon sama tempe goreng di dapur. Makan dulu saja, nanti biar bapakmu nyusul"
"Iya ma"

Kamar berantakan, itu sudah biasa bagiku. Laptop ASUS berwarna putih beserta lembaran-lembaran kertas di atas kasur segera kusingkirkan ke atas meja. Biasanya sebelum tidur suatu kewajiban untuk bermain "Get Rich" dulu. Tetapi entah kenapa saat itu aku enggan untuk mengambil android baruku di atas galon ruang tengah karena sedang di-charge.

Malam itu aku sedikit melakukan gerakan yoga. Lagi-lagi perasaanku tak karuan. Ada yang janggal disini. Tetapi mungkin aku sedang lelah.

"Ma, Memei tidur dulu ya!"

Malam pun semakin larut. Tak lagi kuhiraukan suara dengingan nyamuk yang sebenarnya membangunkanku. Kuabaikan suara derapan musang kecil berkeliaran, yang sebenarnya sengaja mengganggu tidurku.

"TOEENGG!"

"Ayah, suara apa itu?"tanya mamaku.
"Oahmm.. suara musang mungkin"
"Tapi itu seperti suara besi yang dipukul-pukulkan Ayah!"

Hari sudah menunjukkan pukul 03.00. Dinginnya malam semakin membuatku beringsut masuk ke dalam selimut tebalku.

"Yah, mau kemana?"

Ayah pun pergi, menuju kamarku. Menyalakan lampu neon kamarku. Sedikit kubuka mataku, kulihat  kemana Ayah akan pergi. Pintu balkon itu dan...

"WOIIIII!! WOIII!!"

Suara riuh rendah memenuhi kamar tidurku. Setengah percaya setengah tidak, 5 orang laki-laki masuk beruntun dan menyeret ayahku ke dalam. Napasku mulai tersengal-sengal. Ya, karena mendengar tangisan mamaku yang memohon-mohon pada mereka untuk tidak menyakiti adikku yang berumur 3 tahun. Siapa yang berani melawan? Mereka semua membawa golok dengan wajah ditutup topeng seperti perampok-perampok di televisi.

Jelas, aku juga disandera mereka. Ibuku dan adikku duduk berkumpul di atas tempat tidur. Sedangkan mereka mengobrak-abrik seluruh isi rumahku. Menguras habis seluruh barang yang bisa dijual.
Tiba-tiba saja aku melilhat kabut putih mengikuti mereka, sontak aku teriak-teriak seperti orang kerasukan.

"Kamu!!! Kamu!!!"

Tanganku tak lepas menuding-nuding bayangan di belakang mereka. Mereka pun terkejut mendengar pengakuanku, bahwa mereka tak sendirian. Ada yang membantu di luar sana. Dengan sigap mereka mematikan lampu kamarku, bahkan hampir membungkusku dengan selimut tebal.

SIALAN!!!

Alhasil mereka mengobrak abrik isi kamarku dengan pencahayaan senter. Bahkan mereka begitu gelisah karena aku terus berteriak-teriak menunjuk-nunjuk makhluk di belakang mereka.

"WOOIII!! Bu, anaknya suruh diem!"

Lantunan doa kami panjatkan bersama-sama. Entah mereka mendengar atau tidak. Aku hanya sedikit melakukan meditasiku dan berdoa agar mereka segera pergi dan ditunjukkan pada hati nuraninya. Tak elak juga Ayahku juga menceramahi mereka dengan sebutan-sebutan Wallahi dan Laillahaillalah.

Tetapi siapa yang berani melawan sekelompok orang membawa senjata tajam? Siapa yang rela bertaruh dengan nyawa demi sebuah harta?
Tak lama mereka pun langsung lari membawa segala macam barang berharga.

Tidak!! Ini bukan sinetron, ini bukan mimpi, ini kenyataan!!
Aku duduk terdiam. Bagaimana mungkin seseorang mencongkel pintu balkon kamarku dan aku tak sadarkan diri? Sepulas itukah tidurku?

Sujud syukur kulakukan pada Allah SWT, ternyata laptop dan android terbaruku telah terabaikan oleh mereka. Hanya barangku yang terselamatkan.
Hitung saja semua ini adalah pembersihan harta. Siapa sangka barang yang kita beli dengan uang jerih payah adalah barang hasil curian. Lagipula harta itu datangnya dari Allah, maka sudah pasti harta itu kembali pada Allah. Dengan tidak melupakan untuk selalu bersedekah kepada orang yang lebih membutuhkan.

"Ayah nggak lapor polisi?"
"Buat apa? Yang ada hanya terekspos dan manusia selalu mengomentari sesuka hatinya. Sudahlah, toh itu semua tak ada gunanya. Justr bikin tambah rame aja. Tidur aja Mei," jelas Ayah.

Ya, benar. Semua terlambat. Itung-itung pembersihan harta. Allah tahu bahwa keluarga kami sedang terdzalimi, alangkah indahnya jika saat seperti ini aku berdoa untuk masa depanku yang sukses. Aamiin.

Senin, 06 April 2015

Benar, masih ada hari esok

Bersiaplah sebelum berperang.
Satu detik saja terlewat, nyawamu akan terhunus oleh pedang nan tajam.
Apakah kau seorang yang memiliki cita-cita?
Apakah kau seorang yang memiliki pemikiran panjang?
Siapkanlah semuanya sebelum terlambat,
Sebelum kayu menjadi abu,
Sebelum daun menjadi kering,
Sebelum hujan menjadi badai
dan sebelum musim akan terus berganti

Aku memiliki cita-cita. Tetapi aku sedikit terlambat melangkah untuk menggapainya.
Benar, masih ada hari esok. Tetapi aku tak tau, apakah Tuhan masih sayang padaku.
Benar, masih ada hari esok. Tetapi aku tak tau, apakah umurku masih panjang tuk mencapai hari itu.
Benar, masih ada hari esok. Tetapi aku sangat tak ingin menyia-nyiakan waktuku yg terlampau berharga bagiku.
Benar, masih ada hari esok. Tetapi... kalau bisa sekarang KENAPA TIDAK?

Hargailah waktumu, menit dan setiap detikmu. Lihatlah jauh ke depan. Jika kamu memang ingin berperang besar, persiapkan segalanya dengan matang. Perang besar terjadi di setiap belahan bumi, tak mungkin jika mereka tak memiliki persiapan dan taktik yang matang. Perkirakan semua yang akan kau lakukan setiap detik dan waktu yang kau butuhkan. Jangan sampai waktu itu menghambat mimpi indahmu dan membangunkanmu, sedangkan sebentar lagi sudah mampu kau gapai.
Terakhir, berdoalah pada Tuhan agar selalu membimbingmu.

Jumat, 09 Januari 2015

Kemejamu kenapa berdarah?



Melihat berita tentang kekerasan, pembunuhan seringkali ditayangkan di televisi. Namun hal tersebut tetep aja disensor. Khususnya untuk hal yang tak pantas untuk ditonton. Suatu hal yang disengaja untuk berbuat kejahatan atau tidak disengaja. Asalkan yang berbau mengerikan dan tragis harus disensor. 
Tetapi kalau melihat gambar animasi dan komik tentang pembunuhan nggak disensor. (red:Ya iyalah, bukan manusia beneran). But, what’s about the sense? Do you feel it? So hurt, huh?!

Lalu bagaimana ketika kita melihat hal tragis tanpa sengaja? Melihat langsung di depan mata kita. Jengkal setiap jengkal, inchi setiap inchi teramati secara lekat oleh kornea mata yang kemudian ditransfer ke bagian cerebelum, otak kita dan teridentifikasi, bahwa hal itu tak pantas untuk ditonton. Apalagi bagi yang masih di bawah umur.

Sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB suatu hal yang "so hehh" terjadi. 
Di sekitar jalan raya dekat pasar Kranggan (tugu berdiri), Jalan Diponegoro Yogyakarta. Jalanan begitu padat merayap oleh mobil, motor, bus dan lainnya. Apalagi jam pulang kerja menambah padat dengan pikiran akan segera sampai di rumah dan melepas lelah. 

Dan sebuah sepeda motor terjatuh di tengah jalan yang terlihat begitu sesak. Padat. Bukan kendaraan besi beroda dua yang "eye cacthing" terlihat. Tetapi seorang lelaki berumur sekitar 45 tahun, bertubuh kurus, dengan rambut tipis hampir habis, memakai kemeja putih dan celana hitam terkapar di tengah jalan. 
Tertindihkan oleh kendaraan besinya. Sungguh miris. Rombongan motor dari arah berlawanan, dan sebuah pick up melindas dengan nyamannya tangan dan kepala lelaki itu berkali-kali. Selayaknya sebuah boneka yang menjadi polisi tidur di tengah jalan dengan tangan yang memantul mantul setelah ditelindas kendaraan bermuatan ratusan kilo.

Apakah itu manusia? Sempat bangkit dengan panik. 
Namun terjatuh. Bangkit lagi. 

Limbung dan jatuh. 
Bangkit hingga ia memegang beberapa bagian dari kepalanya. 
Entah sadar atau tidak, darah segar sudah membasahi kemeja putihnya, seluruh wajahnya. Darah yang mengucur tanpa henti dari kedua matanya. Dari kepalanya..

Beramai-ramai orang, sekitar 5 orang mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Berusaha menghentikan sekian ribu banyak kendaraan yang akan melintas di sekitar lokasi. Kendaraan itu tak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya perasaan dan tujuannya yang ingin segera pulang dan sampai rumah. Hanya itu.

Kemudian lelaki itu bangkit lagi. Berjalan tergopoh-gopoh namun gesit seakan menandakan, “I’m fine. Thank you. It doesn’t matter for me. I’m sure. I’m okay”

Aku tak bisa menangis. Tak ada air mata yang keluar dari mataku. Tetapi sesak jantung rasa ini. Seakan hatiku menangis tetapi air mata tak terurai. Menandakan, "im not sure you’re okay sir!!!" 
Kamu sedang mengalami musibah yang masih belum kamu sadari. Musibah yang kamu rasa masih mampu menghadapinya. Tetapi entah setelah detik waktu berlalu. Apakah dia sadar apa yang baru saja terjadi? 
Mungkin bisa saja aku tak melihat dan mengalihkan pandanganku dari proses hal tragis tersebut terjadi. Tetapi seolah mata ini tak ingin terpejam.

Lelaki itu duduk di pinggir trotoar di depan sebuah bank. Dengan kondisi darah masih terus memancur dari kepala dan matanya. Entah apakah matanya sudah keluar, atau…. Ahhhhh!!!!

Orang-orang yang membantu masih panik. Mereka lari kesana kemari. Seseorang mengambilkan sebuah handuk kecil untuk lelaki itu. Are you crazy? You’re should be brought him to the hospital!
Hatiku bergumul, bergelut dengan orang-orang yang justru tak ada yang menemani lelaki itu. Mereka masih lari kesana kemari.

Take a breath, so deep deep and deep..
Busku melaju lagi seiring "traffic light" berubah menjadi hijau. Dzikir dan istigfar kulantunkan. Doa keselamatan, doa memohon perlindungan kupanjatkan. 

Apa yang telah terjadi, itulah takdir Allah. Takdir lelaki berkemeja putih itu bahwa hari ini, pukul 15.00 dia akan mendapatkan musibah. Entah sebagai cobaan, peringatan atau tanda kasih sayang kepadanya.

Di sisi lain aku berpikir, manusia bukanlah orang yang kuat. Manusia hanya makhluk yang kecil. Dialah yang Maha besar. Semua manusia bisa mati kapan saja, bisa terluka kapan saja, bisa gila kapan saja, bisa sakit kapan saja atas perintah-Nya.

At least, please pray for us, health, safety everywhere and whenever we stay and take a breath.
Bersyukurlah ketika kita masih diberi kesehatan, umur yang panjang dan tentunya.. kebahagiaan.

Minggu, 04 Januari 2015

aku belum bangun

sebuah telepon berdering mengagetkanku di pagi hari.
1 misscalled, "Mama"
Tak luput dari pandanganku, jam digital turut serta menambah kencang detak jantung karena tulisan angka yang terpapar di layar android.

05.50am

Ternyata sedari tadi sudah banyak kata berwarna merah "PING!" di aplikasi BBM-ku dari Bimo (adekku).
 "Ya ampun, aku belum nelpon papa di rumah" gumamku.
Adikku hanya membawa androidnya untuk berwebsite ria, sedangkan ayahku? Asalkan bisa untuk telepon dan sms. Cukup. Jelas saja aku harus menghubungi ayah.

segera saja kurengkuh handphone kecil berwarna putih, yang sudah terlihat kusam karena bertahun-tahun kupelihara. Keypad angka kutekan dengan lancar.

Dering nada sambung pun berbunyi,tak lama suara seorang lelaki dari seberang sana menyahut panggilan teleponku.
disana : Halo

aku : Halo, Pa! jemput bimo di bandara jam 6.20!! cepetan ya pa! (teriakku begitu terasa tergesa)

disana : Hah? Bimo siapa?
(geram rasa hatiku. seorang ayah seketika melupakan anak kandung ketiganya).

aku : Ya Allah! Bimo! Bimo Nugroho Usman Ali pa.!
(Rasanya sudah mau nangis, betapa tega ayahku hingga aku perlu menyebutkan nama lengkap adikku)

Beberapa detik kami sempat terdiam. sebuah kalimat muncul begitu saja dari seberang telepon sana.
disana : Salah sambung ini!

aku : (belum lengkap serta merta ayahku mengatakan salah sambung? Ya, memang suara ayah hari ini terlihat lebih muda dan halus. tidak serak-serak basah seperti biasa). ohyaa.. ya! begitu kuucapkan.

klik!

Dahiku masih berkerut, salah sambung apaan? Baiklah nanti aku telepon lagi, mungkin papa sedang tak enak badan. Sedikit kulirik nomer telepon yang kutekan..

Mataku terbelalak!!! Jantungku seolah ketindihan benda seberat 100 kg. Aku menekan nomer telepon yang salah?! 0274-367367 sedangkan nomer telepon rumah yang seharusnya kutekan adalah 0274-367311

Selukis senyuman mengerikan tergambar di bibirku. Hemh, memang benar, kalau bangun tidur itu harus sadar dulu. Tak salah jika beberapa orang mengatakan, "Aku ngumpulin nyawa dulu ya"

kali ini, nyawaku sudah terkumpul. Entah 7, 9 atau 20. kutekan dengan santai dan cermat nomor telepon yang seharusnya kutuju..
#payah


Minggu, 17 Agustus 2014

because it's my life

Detik waktu terus bergulir, membuat kalender tiap tahun selalu berganti.
Seorang bayi, akan menjadi seorang anak, remaja, dewasa, dan lansia.
Sama halnya seperti sekarang. Aku berada pada titik dimana aku sedang berusaha menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi negeri, skripsi

Sungguh ironis, ketika satu persatu teman dekatku pergi. Seorang saat hampir mendekati kelulusannya justru mengambil cuti. Seorang lagi mengambil cuti karena bekerja di bengkulu bersama suaminya. Seorang lagi sudah hampir seminar hasil bahkan sidang. Yang lain lagi bersantai dan menjalani dengan saksama.

Setiap orang mempunyai pilihan hidup masing-masing. Tentunya itu semua sudah harus dipikirkan matang-matang.

Jikapun ada yang berkomentar ini itu. So what? It's my life. Aku yg menjalani, dan aku pula yang bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.
Tapi, jangan lupa. Aku, kita saling memberi pendapat, mungkin ini atau itu lebih baik kamu kerjakan dulu sebelum yang lainnya.

Untuk sahabat-sahabatku, aku berteman denganmu bukan karena saat aku butuh. Tetapi karena aku merasa nyaman, yeah.. you are my friend.

Dan meski raga kita terpisah jauh, hati kita selalu satu..
Tetap semangat yaa

Sabtu, 21 Juni 2014

Hai, Rei?!

Aku senang bermimpi.
Aku senang menuliskan mimpi-mipiku pada kertas, dan kutempelkan pada sebelah dipanku agar setiap sebelum tidur aku bisa membacanya dan berdoa agar semuanya terwujud. Karena aku senang bermimpi, aku pun senang untuk tidur.
Tetapi... mimpi-mimpi ini justru membuatku gila.



Ngilu terasa di pelipis kananku. Sedikit kusentuh, rasanya semakin sakit. Badanku mulai basah oleh keringat. Di punggung tangan, bawah mata dan dahiku. Suara ramai orang-orang dari luar kamar membuatku membuka mata. Apa yang baru saja terjadi? Aku mulai bingung dan mengerjap-ngerjapkan mataku..


“Sudah, nanti saja bangunnya. Capek ya?”

Suara lagu pop serta berisiknya orang-orang sedang makan terdengar di telingaku. Kulihat di kamarku terdesain indah layaknya kamar seorang pengantin. Dan.. seorang pria muncul di pintu kamar dengan tergopoh-gopoh tersenyum lembut, hangat dan menatapku begitu dalam. Aku masih belum paham. Aku...

"Ini..ada..apa, Ma?”, ucapku terbata-bata pada mama yang berhias sangat cantik dengan kebaya berwarna merah marunnya.

Mama hanya tersenyum. Kulihat diriku memakai gaun pengantin berwarna merah yang sangat indah dan begitu kuimpikan. Sesuai dengan desain yang kubuat saat .. saat...

“Aku..aku...?”,ucapku terbata dengan rasa takut.

“Sayang, kamu kenapa? Rei, kemarilah!”,kata ibu kepada seorang pria yang sedang berdiri di pintu.

Nafasku mulai tak teratur. Rasanya aku ingin berteriak ‘APA YANG SEDANG TERJADI?’

“Nak, tadi kamu tiba-tiba tertidur setelah Rei mengucap sumpah setia di atas Al-Qur’an. Kamu terlalu bahagiakah sampai-sampai seperti itu? Mama cemas, juga geli sekali”,jelas mama.

“Bukannya aku, aku sedang tidur di kamar tadi? Kok tiba-tiba aku..“

“Ya, tapi masa tidur di acara sakralmu itu? Mama tau sih, kamu seneng banget tidur. Dasar ya kamu ini! Hahaha..”,kata mama sambil terbahak.

Aku benar-benar masih tak percaya. Bukan! Ini mimpi! Tidak! Aku belum menikah. Seingatku, semalam aku beranjak untuk tidur. Tetapi, kenapa aku sekarang sudah ada di pelaminan? Aku semakin tak tenang, aku beranjak dari kasur dan menengok keluar kamar. Kulihat foto ‘pre-weddingku’ dengan seseorang yang kulihat di kamar tadi. Siapa namanya? Rei? Hah, aku tak tahu siapa dia. Segera kucubit tanganku dengan keras. Begitu juga teriakan rasa kesakitanku.

“Nak, kamu kenapa?”,teriak mama.

“Ma, katakan padaku yang sejujurnya! Aku mohon!”,ucapku hampir terisak.

“Kamu ngomong apa, Dinda?”,tanya mama heran.

“Aku hanya bermimpi kan? Setahuku, terakhir kali kuingat, aku beranjak ke kasur untuk tidur malam. Dan aku memang berniat keesokannya untuk menghadiri pernikahan temanku. Tetapi.. kenapa... aku yang menikah?”,ucapku tak karuan.

Pria yang ada di sebelahku tertawa kecil. Matanya berputar layaknya menertawakanku karena aku seperti orang kecil.

“Hush! Kamu ini ‘ngaco’ ya? Sembarangan! Hei, Rei sudah sah jadi suamimu. Ini Rei! Yang kamu kenalkan pada mama usai kamu pulang kerja beberapa bulan yang lalu. Bahkan kamu sangat senang ketika Rei melamarmu. Apa kamu tak ingat, Nak?”,tanya mama.

Kuamati lekat-lekat pria yang bernama Rei. Dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seorang pria berkacamata, memiliki sedikit janggut, hidungnya mancung, rambutnya sedikit ikal dipotong pendek, tingginya mungkin sekitar 170cm, lengkap dengan pakaian pengantin pria. Ia tersenyum tulus. Hangat.

“Ma, apa aku boleh..emm..boleh.. tidur lagi?”ucapku lirih.

“Hah? Kamu ngomong apa? Tamu-tamu sudah banyak di depan. Kamu mau tidur? Ya ampun, permohonan macam apa sayang? Oh tidak!”,ucap mama.

“Aku pikir, aku sekarang sedang bermimpi. Aku pikir aku .. aku..sebenarnya masih sendirian dan ingin fokus bekerja saat itu. Tetapi aku tak mengira, sekarang aku sudah ada di pelaminan. Bahkan sudah bersuami. Aku bingung ma. Aku bingung..”,ucapku tersedu.

“Tante, mungkin Dinda butuh istirahat sebentar. Mungkin ia kecapekan. Jadi bagaimana jika kita tinggalkan ia dulu untuk beristirahat. Lagipula tadi kepalanya juga sedikit terbentur meja”,ucap Rei.

Aku kembali memandangnya. Rei. Aku bahkan tak pernah bertemu bahkan mengenalnya. Latar belakangnya, umurnya, pekerjaannya. Dan aku tak merasa mengenalkannya pada mama. Tetapi mengapa ia sangat mengenalku?

“Baik. Beristirahatlah. Sebentar saja!”,ucap mama singkat.

Mereka berdua pun keluar dari kamarku sambil menutup pintu rapat-rapat. Kupandangi lagi sekeliling kamarku. Bahkan kupastikan kembali apakah ini benar-benar kamarku. Dan.. yah..ini benar kamarku. Kulihat beberapa kertas tertumpuk di dalam lemari. Kertas-kertas mimpiku. Setiap mimpiku yang tercapai biasanya kucoret sebagai tanda sudah tercapai. Dan mimpi ke-28? Sudah kucoret? Mataku membelalak dengan mulut menganga. Kapan aku mencoret mimpiku yang ke-28 ini? “MENIKAH SEBELUM UMUR 27 TAHUN”.

Aku terkejut bukan kepalang. Memang benar aku belum berumur 27 tahun. Tetapi kenapa aku menuliskan ini? Bisa saja aku menikah saat berumur 18 tahun, 21 tahun, dan sekarang.. aku berumur.. kucari handphoneku di setiap sudut kamar. Dan kutemukan di dalam lemari bahwa sekarang tanggal 21 Juni 2014. Aku terbelalak. Berarti dua minggu lagi aku genap berumur 27 tahun? Aku jatuh terduduk.

Kembali kuhela napas panjang. Kutenangkan diriku. Mencoba menerima ini semua. Ya, ini bukan mimpi. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ya, aku harus membenahi dandananku dan keluar untuk merayakan hari sakralku ini.

Kubuka pintu kamar perlahan. Orang-orang sudah ramai lalu lalang. Saudara-saudaraku sudah menungguku di luar. Satu persatu mereka memberiku ucapan selamat dan menanyakan kondisiku. Aku hanya tersenyum. Jauh di lubuk hatiku terdalam, aku berkata’ini hanya mimpi, nikmati saja’. Tetapi ini nyata, aku masih belum bisa mengartikannya

Tak lama aku bersanding dengan pria bernama Rei di kursi pelaminan. Bersalaman dengan para tamu. Undangan begitu ramai sekali. Sepertinya Rei adalah orang kaya. Lagipula jika aku sekarang bersuami, Rei tidak buruk dan aku pikir dia adalah lelaki idaman. Senyum licik terlukis di wajahku.

Tak terasa hari sudah malam. Mereka bilang malam pertama adalah malam yang menyenangkan. Tetapi tidak bagiku untuk saat ini! Sudah kuputuskan, aku tak..

“Sudah, nggak usah takut. Mungkin kamu terlalu capek. Malam pertama bisa kita lakukan malam selanjutnya bukan? Tidurlah sayang”,ucap Rei lembut.

Aku mulai tertidur, berharap..berharap..berharap..

“Dinda!!! Bangun!”,teriak mama.

Perlahan kubuka mataku. Kamarku? Jantungku berdetak kencang. Aku langsung terbangun. Tak ada kamar pelaminan. Tak ada Rei.. Dimana dia? Aku benar-benar panik mencarinya.

“Ma, mana Rei?”,tanyaku ragu.

“Siapa itu Rei? Cepatlah bersiap-siap! Bukannya kamu mau pergi ke pernikahan temanmu?”,tanya mama.

Aku kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Kulupakan sejenak pikiranku tadi. Sebentar lagi Sinta menjemputku.

TIINNNN...
Suara klakson terdengar dari luar.

Aku segera masuk ke dalam mobilnya. Dan, kulihat pria itu ada di dalam mobil Sinta. Aku tertegun cukup lama.

“Dinda! Kenalin ini Rei, tunanganku. Baru saja lulus S2 dari Itali kemarin. Hehe..”,jelasnya.

Wajahku pucat seperti telur busuk. ‘Apa aku tertidur lagi? Ini mimpi kan?’