Jumat, 09 Januari 2015

Kemejamu kenapa berdarah?



Melihat berita tentang kekerasan, pembunuhan seringkali ditayangkan di televisi. Namun hal tersebut tetep aja disensor. Khususnya untuk hal yang tak pantas untuk ditonton. Suatu hal yang disengaja untuk berbuat kejahatan atau tidak disengaja. Asalkan yang berbau mengerikan dan tragis harus disensor. 
Tetapi kalau melihat gambar animasi dan komik tentang pembunuhan nggak disensor. (red:Ya iyalah, bukan manusia beneran). But, what’s about the sense? Do you feel it? So hurt, huh?!

Lalu bagaimana ketika kita melihat hal tragis tanpa sengaja? Melihat langsung di depan mata kita. Jengkal setiap jengkal, inchi setiap inchi teramati secara lekat oleh kornea mata yang kemudian ditransfer ke bagian cerebelum, otak kita dan teridentifikasi, bahwa hal itu tak pantas untuk ditonton. Apalagi bagi yang masih di bawah umur.

Sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB suatu hal yang "so hehh" terjadi. 
Di sekitar jalan raya dekat pasar Kranggan (tugu berdiri), Jalan Diponegoro Yogyakarta. Jalanan begitu padat merayap oleh mobil, motor, bus dan lainnya. Apalagi jam pulang kerja menambah padat dengan pikiran akan segera sampai di rumah dan melepas lelah. 

Dan sebuah sepeda motor terjatuh di tengah jalan yang terlihat begitu sesak. Padat. Bukan kendaraan besi beroda dua yang "eye cacthing" terlihat. Tetapi seorang lelaki berumur sekitar 45 tahun, bertubuh kurus, dengan rambut tipis hampir habis, memakai kemeja putih dan celana hitam terkapar di tengah jalan. 
Tertindihkan oleh kendaraan besinya. Sungguh miris. Rombongan motor dari arah berlawanan, dan sebuah pick up melindas dengan nyamannya tangan dan kepala lelaki itu berkali-kali. Selayaknya sebuah boneka yang menjadi polisi tidur di tengah jalan dengan tangan yang memantul mantul setelah ditelindas kendaraan bermuatan ratusan kilo.

Apakah itu manusia? Sempat bangkit dengan panik. 
Namun terjatuh. Bangkit lagi. 

Limbung dan jatuh. 
Bangkit hingga ia memegang beberapa bagian dari kepalanya. 
Entah sadar atau tidak, darah segar sudah membasahi kemeja putihnya, seluruh wajahnya. Darah yang mengucur tanpa henti dari kedua matanya. Dari kepalanya..

Beramai-ramai orang, sekitar 5 orang mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Berusaha menghentikan sekian ribu banyak kendaraan yang akan melintas di sekitar lokasi. Kendaraan itu tak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya perasaan dan tujuannya yang ingin segera pulang dan sampai rumah. Hanya itu.

Kemudian lelaki itu bangkit lagi. Berjalan tergopoh-gopoh namun gesit seakan menandakan, “I’m fine. Thank you. It doesn’t matter for me. I’m sure. I’m okay”

Aku tak bisa menangis. Tak ada air mata yang keluar dari mataku. Tetapi sesak jantung rasa ini. Seakan hatiku menangis tetapi air mata tak terurai. Menandakan, "im not sure you’re okay sir!!!" 
Kamu sedang mengalami musibah yang masih belum kamu sadari. Musibah yang kamu rasa masih mampu menghadapinya. Tetapi entah setelah detik waktu berlalu. Apakah dia sadar apa yang baru saja terjadi? 
Mungkin bisa saja aku tak melihat dan mengalihkan pandanganku dari proses hal tragis tersebut terjadi. Tetapi seolah mata ini tak ingin terpejam.

Lelaki itu duduk di pinggir trotoar di depan sebuah bank. Dengan kondisi darah masih terus memancur dari kepala dan matanya. Entah apakah matanya sudah keluar, atau…. Ahhhhh!!!!

Orang-orang yang membantu masih panik. Mereka lari kesana kemari. Seseorang mengambilkan sebuah handuk kecil untuk lelaki itu. Are you crazy? You’re should be brought him to the hospital!
Hatiku bergumul, bergelut dengan orang-orang yang justru tak ada yang menemani lelaki itu. Mereka masih lari kesana kemari.

Take a breath, so deep deep and deep..
Busku melaju lagi seiring "traffic light" berubah menjadi hijau. Dzikir dan istigfar kulantunkan. Doa keselamatan, doa memohon perlindungan kupanjatkan. 

Apa yang telah terjadi, itulah takdir Allah. Takdir lelaki berkemeja putih itu bahwa hari ini, pukul 15.00 dia akan mendapatkan musibah. Entah sebagai cobaan, peringatan atau tanda kasih sayang kepadanya.

Di sisi lain aku berpikir, manusia bukanlah orang yang kuat. Manusia hanya makhluk yang kecil. Dialah yang Maha besar. Semua manusia bisa mati kapan saja, bisa terluka kapan saja, bisa gila kapan saja, bisa sakit kapan saja atas perintah-Nya.

At least, please pray for us, health, safety everywhere and whenever we stay and take a breath.
Bersyukurlah ketika kita masih diberi kesehatan, umur yang panjang dan tentunya.. kebahagiaan.

Minggu, 04 Januari 2015

aku belum bangun

sebuah telepon berdering mengagetkanku di pagi hari.
1 misscalled, "Mama"
Tak luput dari pandanganku, jam digital turut serta menambah kencang detak jantung karena tulisan angka yang terpapar di layar android.

05.50am

Ternyata sedari tadi sudah banyak kata berwarna merah "PING!" di aplikasi BBM-ku dari Bimo (adekku).
 "Ya ampun, aku belum nelpon papa di rumah" gumamku.
Adikku hanya membawa androidnya untuk berwebsite ria, sedangkan ayahku? Asalkan bisa untuk telepon dan sms. Cukup. Jelas saja aku harus menghubungi ayah.

segera saja kurengkuh handphone kecil berwarna putih, yang sudah terlihat kusam karena bertahun-tahun kupelihara. Keypad angka kutekan dengan lancar.

Dering nada sambung pun berbunyi,tak lama suara seorang lelaki dari seberang sana menyahut panggilan teleponku.
disana : Halo

aku : Halo, Pa! jemput bimo di bandara jam 6.20!! cepetan ya pa! (teriakku begitu terasa tergesa)

disana : Hah? Bimo siapa?
(geram rasa hatiku. seorang ayah seketika melupakan anak kandung ketiganya).

aku : Ya Allah! Bimo! Bimo Nugroho Usman Ali pa.!
(Rasanya sudah mau nangis, betapa tega ayahku hingga aku perlu menyebutkan nama lengkap adikku)

Beberapa detik kami sempat terdiam. sebuah kalimat muncul begitu saja dari seberang telepon sana.
disana : Salah sambung ini!

aku : (belum lengkap serta merta ayahku mengatakan salah sambung? Ya, memang suara ayah hari ini terlihat lebih muda dan halus. tidak serak-serak basah seperti biasa). ohyaa.. ya! begitu kuucapkan.

klik!

Dahiku masih berkerut, salah sambung apaan? Baiklah nanti aku telepon lagi, mungkin papa sedang tak enak badan. Sedikit kulirik nomer telepon yang kutekan..

Mataku terbelalak!!! Jantungku seolah ketindihan benda seberat 100 kg. Aku menekan nomer telepon yang salah?! 0274-367367 sedangkan nomer telepon rumah yang seharusnya kutekan adalah 0274-367311

Selukis senyuman mengerikan tergambar di bibirku. Hemh, memang benar, kalau bangun tidur itu harus sadar dulu. Tak salah jika beberapa orang mengatakan, "Aku ngumpulin nyawa dulu ya"

kali ini, nyawaku sudah terkumpul. Entah 7, 9 atau 20. kutekan dengan santai dan cermat nomor telepon yang seharusnya kutuju..
#payah