Sabtu, 16 Juni 2012

disana bintangku


Disana Bintangku
oleh : Monica Lucky Karlina

Aku adalah seorang manusia biasa,
yang tak lebih pintar dari seorang Albert Einstein.
But, I have a big dream, and I believe my dreams come true..

***
“Halo, Ayah kapan pulang?”
“wah, tak tentu ayah pulang kapan. Nanti ayah kabari lagi. Yang penting kamu jaga kesehatan, jangan lupa minum obat”
“tapi gadis kange.…”
“iya..udah dulu ya..dahh sayang..”
Tut..tut..tut….

Mama ,beginilah papa selalu sibuk dengan kerjaannya. Gadis,di rumah sama Eyang sama simbok berasa sepi tak ada Ayah dan mama. Besok Gadis mau berangkat kuliah aja ya ma. Gadis gak apa2 kok,masih sehat seperti dulu.

“Gadis…cepat tidur!!udah jam 8malam, minum obatnya”
“tapi, Eyang, kan masih jam 8. Gadis mau ngerjain tugas buat besok kumpul di kampus. Tadi pagi juga Gadis udah minum obat kok”
“welehh..ini anak masih aja ngotot pengen masuk kuliah. Kamu itu udah gak bisa nerima pelajaran, manggil nama temenmu aja suka tiba-tiba lupa,hari aja lupa kok ya masih mau kuliah”
“Tapi eyang..itu kan Cuma kadang-kadang aja”
“ndak,ndak!kurang kerjaan genduk iki. Obatnya diminum 2x sehari Gadis”
“Gadis gak mau minum obat banyak-banyak Eyang,,nanti ginjal Gadis kasihan kerja terus”
“Gadis!!nurut kata Eyang!!”

Aku tertunduk lesu dan pasrah. Di rumah ini, Eyanglah yang punya kekuasaan tertinggi. Entah, berapa banyak senyawa kimia yang sudah masuk ke dalam tubuhku, menyiksa kerja ginjalku yang tinggal satu ini. Tanpa sepengetahuan Eyang, aku buang obat rutinku itu.


Keesokan harinya,
Triiinggg,today is Wednesday 16,March 2011.
Begitulah yang tertulis di layar ponselku, agar aku tak lupa hari dan jadwalku.
Pagi hari, pukul 05.30 Eyang masih di kamarnya. Mengendap-endap diriku keluar dan berangkat ke kampus. Universitas yang cukup terpandang, fakultas Kedokteran.

Mama, maafin Gadis ya udah membantah perintah Ayah dan Eyang untuk tetap melanjutkan kuliah Gadis. Meski begitu, gadis masih bisa belajar dan terus belajar agar Gadis bisa banggain mama. Gadis bisa bantu orang-orang yang kesakitan bahkan kritis, gak kayak mama dulu yang telat sedikit akibat bantuan dokter disini, dan gadis juga sakit seperti ini.

“Hai Gadis!!kamu berangkat kuliah?”
“ohh,iya..mm..kamu mm..Saan..san..”
“iya,aku Sani..”
“aduhh,maaf Sani..maaf..”
“iya gak apa2 kok Gadis,sekarang ke ruang 211 yuk!!mata kuliah anatomi”

Aku punya 2 sahabat, namanya Sani dan Romi. Mereka adalah sahabat terbaikku, meskipun aku tak seperti awal dulu, sebelum peristiwa itu terjadi hingga aku seperti ini. Mereka selalu menolongku dan menemaniku. Saat ini aku sudah semester 6, mungkin 2 atau 3 tahun lagi aku lulus. Meski banyak yang harus aku ulang mata kuliah semester sebelumnya hingga IPK ku anjlok sejak adanya keganjalan dengan memoriku ini. Ahh..sudahlah…hal itu hanya mengingatkanku pada mama..

“aduuuhh…sakiittt….”
“Gadis, kamu udah minum obatnya??atau mau aku antar pulang aja ya?”
“Gak apa-apa Romi,paling Cuma bentar sakitnya”

Mama,kepalaku sakit lagi setiap aku berfikir keras. Tapi bentar lagi ujian akhir ma. Gadis gak mau kecewain mama. Gadis mau buktiin ke Eyang dan Papa kalo gadis bisa buktiin Gadis bisa. Doain Gadis ya ma..

“GADISSSS!!!!!darimana saja kamu?kuliah lagi??”
“eng..eng..i..iya..Eyang. maaf eyang, maafin Gadis, tapi Gadis..”
“Gak ada tapi-tapian!pokoknya besok kamu di rumah terus,gak boleh keluar rumah. Biar Mbok Nah yang awasin kamu! Gak perlu apa itu kuliah, buat apa?!cari duit?udah Ayah kamu yang cari duit!besok juga kamu nikah sama anak Direktur!gak perlu susah-susah nyari duit”
“Tapi Gadis mau lanjut kuliah ke luar negri”
“kamu ini keras kepala ya,kok ya sempetnya ngimpi siang-siang sekolah sampai ke luar negri segala. Sana masuk kamar!”

***

“Halo,Romi..”
“iya,Gadis..ada apa??”
“Romi,boleh minta tolong?”
“tentu,perlu apa dis?”
“mulai besok,aku gak boleh keluar rumah Rom,padahal aku mau persiapan buat ujian akhir. Bisa pinjem catetan sama buku2 perpustakaan?”
“okee,besok habis kuliah aku sama Sani ke rumahmu sambil bawa buku-buku perpustakaan. Aku juga bakal sering maen ke rumahmu dis,kangen juga jarang ketemu kamu.hhehe”
“thanks rom”

Ma,hari ini Gadis ujian akhir. Segalanya udah Gadis siapin,meski gak berangkat kuliah Gadis udah belajar mati-matian ma di kamar. Meskipun sampai kesakitan, entah kenapa kepala Gadis belum sembuh juga. Tapi Gadis tak ambil pusing, toh Gadis masih bisa tersenyum melihat foto mama. Dan Gadis yakin, Gadis bisa naikin IPK Gadis yang turun ini. Biar besok bisa dapet beasiswa ke sekolah impian Gadis.

“Gadis,mau kamana kamu?”
“Eyang, Gadis mohon 2minggu ini ijinkan Gadis ke kampus ya Eyang..ada ujian akhir,dan..”
“NGGAKK!!”
“Eyang,tapi Gadis udah janji sama mama. Dan bukankah dulu juga eyang ingin jadi dokter buat sembuhin orang-orang yang membutuhkan?tapi berhenti karena Eyang kakung meninggal gara-gara mal praktek dokter itu?”
“ngawur kamu ngomong ya!darimana kamu bisa bilang kayak gitu?”
“maaf Eyang, maaf Gadis lancang. Mama dulu yang pernah cerita ke Gadis. Tapi sungguh, Gadis ingin punya cita-cita jadi dokter yang ahli”.
“………………………………………………”
Hening tak sepatah kata terucap dari bibir Eyang. Matanya berkaca-kaca memandang jauh kesana. Entah mungkin teringat nostalgia bersama Eyang kakung.

“sudah,sana berangkat!!”,kata Eyang dengan suara lantangnya.
“ma..makasih Eyang!”. Kucium punggung tangannya dengan lembut.

Mama,Eyang ngebolehin Gadis buat berangkat kuliah, ujian akhir. Gadis janji akan serius dan betul-betul jaga kondisi dengan tak akan lagi sakit kepala seperti biasa. Gadis akan buktiin pada dunia,,

Satu semester berikutnya, dua semester dan 4 tahun berikutnya….

Gadis Nur Ramdhani,lulus dengan pujian 3,52
Plok..plok…plok…

Mama,sekarang Gadis sekolah di luar negri. Harvard University,mungkin 4 atau 5 tahun lagi Gadis udah jadi dokter handal yang langsung tanggap dengan pasien,tanpa lihat biaya dari pasien. Semua sama, bukankah nyawa mereka juga ada di tangan kita ma? Ohya,ma Ayah sekarang udah sering jalan bareng Gadis. Gak sibuk lagi. Anak direktur yang dibilang Eyang mau nikah sama Gadis, ternyata baru tahu kalo Romi adalah anak direktur yang dimaksud Eyang. Hhahaa …
Gadis sayang mama, papa,eyang..
Ohya, mengenai sakit Gadis, sejak 2 tahun yang lalu Gadis udah jalani terapi sampai sekarang. Dan sudah jauhhhh lebih baik gak pikun kaya nenek-nenek lagi.

Mama, pasti bahagia lihat Gadis dari sana. Dan Gadis selalu doain mama,

“You are never given a wish without also being given the power to make it true. You may have to work at it,however”. Richard bach

***

Cerita ini hanya fiktif belaka,maaf jika terdapat kesamaan cerita, nama tokoh, peristiwa maupun letak. Karena ini tak disengaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar