Jumat, 09 Januari 2015

Kemejamu kenapa berdarah?



Melihat berita tentang kekerasan, pembunuhan seringkali ditayangkan di televisi. Namun hal tersebut tetep aja disensor. Khususnya untuk hal yang tak pantas untuk ditonton. Suatu hal yang disengaja untuk berbuat kejahatan atau tidak disengaja. Asalkan yang berbau mengerikan dan tragis harus disensor. 
Tetapi kalau melihat gambar animasi dan komik tentang pembunuhan nggak disensor. (red:Ya iyalah, bukan manusia beneran). But, what’s about the sense? Do you feel it? So hurt, huh?!

Lalu bagaimana ketika kita melihat hal tragis tanpa sengaja? Melihat langsung di depan mata kita. Jengkal setiap jengkal, inchi setiap inchi teramati secara lekat oleh kornea mata yang kemudian ditransfer ke bagian cerebelum, otak kita dan teridentifikasi, bahwa hal itu tak pantas untuk ditonton. Apalagi bagi yang masih di bawah umur.

Sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB suatu hal yang "so hehh" terjadi. 
Di sekitar jalan raya dekat pasar Kranggan (tugu berdiri), Jalan Diponegoro Yogyakarta. Jalanan begitu padat merayap oleh mobil, motor, bus dan lainnya. Apalagi jam pulang kerja menambah padat dengan pikiran akan segera sampai di rumah dan melepas lelah. 

Dan sebuah sepeda motor terjatuh di tengah jalan yang terlihat begitu sesak. Padat. Bukan kendaraan besi beroda dua yang "eye cacthing" terlihat. Tetapi seorang lelaki berumur sekitar 45 tahun, bertubuh kurus, dengan rambut tipis hampir habis, memakai kemeja putih dan celana hitam terkapar di tengah jalan. 
Tertindihkan oleh kendaraan besinya. Sungguh miris. Rombongan motor dari arah berlawanan, dan sebuah pick up melindas dengan nyamannya tangan dan kepala lelaki itu berkali-kali. Selayaknya sebuah boneka yang menjadi polisi tidur di tengah jalan dengan tangan yang memantul mantul setelah ditelindas kendaraan bermuatan ratusan kilo.

Apakah itu manusia? Sempat bangkit dengan panik. 
Namun terjatuh. Bangkit lagi. 

Limbung dan jatuh. 
Bangkit hingga ia memegang beberapa bagian dari kepalanya. 
Entah sadar atau tidak, darah segar sudah membasahi kemeja putihnya, seluruh wajahnya. Darah yang mengucur tanpa henti dari kedua matanya. Dari kepalanya..

Beramai-ramai orang, sekitar 5 orang mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Berusaha menghentikan sekian ribu banyak kendaraan yang akan melintas di sekitar lokasi. Kendaraan itu tak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya perasaan dan tujuannya yang ingin segera pulang dan sampai rumah. Hanya itu.

Kemudian lelaki itu bangkit lagi. Berjalan tergopoh-gopoh namun gesit seakan menandakan, “I’m fine. Thank you. It doesn’t matter for me. I’m sure. I’m okay”

Aku tak bisa menangis. Tak ada air mata yang keluar dari mataku. Tetapi sesak jantung rasa ini. Seakan hatiku menangis tetapi air mata tak terurai. Menandakan, "im not sure you’re okay sir!!!" 
Kamu sedang mengalami musibah yang masih belum kamu sadari. Musibah yang kamu rasa masih mampu menghadapinya. Tetapi entah setelah detik waktu berlalu. Apakah dia sadar apa yang baru saja terjadi? 
Mungkin bisa saja aku tak melihat dan mengalihkan pandanganku dari proses hal tragis tersebut terjadi. Tetapi seolah mata ini tak ingin terpejam.

Lelaki itu duduk di pinggir trotoar di depan sebuah bank. Dengan kondisi darah masih terus memancur dari kepala dan matanya. Entah apakah matanya sudah keluar, atau…. Ahhhhh!!!!

Orang-orang yang membantu masih panik. Mereka lari kesana kemari. Seseorang mengambilkan sebuah handuk kecil untuk lelaki itu. Are you crazy? You’re should be brought him to the hospital!
Hatiku bergumul, bergelut dengan orang-orang yang justru tak ada yang menemani lelaki itu. Mereka masih lari kesana kemari.

Take a breath, so deep deep and deep..
Busku melaju lagi seiring "traffic light" berubah menjadi hijau. Dzikir dan istigfar kulantunkan. Doa keselamatan, doa memohon perlindungan kupanjatkan. 

Apa yang telah terjadi, itulah takdir Allah. Takdir lelaki berkemeja putih itu bahwa hari ini, pukul 15.00 dia akan mendapatkan musibah. Entah sebagai cobaan, peringatan atau tanda kasih sayang kepadanya.

Di sisi lain aku berpikir, manusia bukanlah orang yang kuat. Manusia hanya makhluk yang kecil. Dialah yang Maha besar. Semua manusia bisa mati kapan saja, bisa terluka kapan saja, bisa gila kapan saja, bisa sakit kapan saja atas perintah-Nya.

At least, please pray for us, health, safety everywhere and whenever we stay and take a breath.
Bersyukurlah ketika kita masih diberi kesehatan, umur yang panjang dan tentunya.. kebahagiaan.

Minggu, 04 Januari 2015

aku belum bangun

sebuah telepon berdering mengagetkanku di pagi hari.
1 misscalled, "Mama"
Tak luput dari pandanganku, jam digital turut serta menambah kencang detak jantung karena tulisan angka yang terpapar di layar android.

05.50am

Ternyata sedari tadi sudah banyak kata berwarna merah "PING!" di aplikasi BBM-ku dari Bimo (adekku).
 "Ya ampun, aku belum nelpon papa di rumah" gumamku.
Adikku hanya membawa androidnya untuk berwebsite ria, sedangkan ayahku? Asalkan bisa untuk telepon dan sms. Cukup. Jelas saja aku harus menghubungi ayah.

segera saja kurengkuh handphone kecil berwarna putih, yang sudah terlihat kusam karena bertahun-tahun kupelihara. Keypad angka kutekan dengan lancar.

Dering nada sambung pun berbunyi,tak lama suara seorang lelaki dari seberang sana menyahut panggilan teleponku.
disana : Halo

aku : Halo, Pa! jemput bimo di bandara jam 6.20!! cepetan ya pa! (teriakku begitu terasa tergesa)

disana : Hah? Bimo siapa?
(geram rasa hatiku. seorang ayah seketika melupakan anak kandung ketiganya).

aku : Ya Allah! Bimo! Bimo Nugroho Usman Ali pa.!
(Rasanya sudah mau nangis, betapa tega ayahku hingga aku perlu menyebutkan nama lengkap adikku)

Beberapa detik kami sempat terdiam. sebuah kalimat muncul begitu saja dari seberang telepon sana.
disana : Salah sambung ini!

aku : (belum lengkap serta merta ayahku mengatakan salah sambung? Ya, memang suara ayah hari ini terlihat lebih muda dan halus. tidak serak-serak basah seperti biasa). ohyaa.. ya! begitu kuucapkan.

klik!

Dahiku masih berkerut, salah sambung apaan? Baiklah nanti aku telepon lagi, mungkin papa sedang tak enak badan. Sedikit kulirik nomer telepon yang kutekan..

Mataku terbelalak!!! Jantungku seolah ketindihan benda seberat 100 kg. Aku menekan nomer telepon yang salah?! 0274-367367 sedangkan nomer telepon rumah yang seharusnya kutekan adalah 0274-367311

Selukis senyuman mengerikan tergambar di bibirku. Hemh, memang benar, kalau bangun tidur itu harus sadar dulu. Tak salah jika beberapa orang mengatakan, "Aku ngumpulin nyawa dulu ya"

kali ini, nyawaku sudah terkumpul. Entah 7, 9 atau 20. kutekan dengan santai dan cermat nomor telepon yang seharusnya kutuju..
#payah


Minggu, 17 Agustus 2014

because it's my life

Detik waktu terus bergulir, membuat kalender tiap tahun selalu berganti.
Seorang bayi, akan menjadi seorang anak, remaja, dewasa, dan lansia.
Sama halnya seperti sekarang. Aku berada pada titik dimana aku sedang berusaha menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi negeri, skripsi

Sungguh ironis, ketika satu persatu teman dekatku pergi. Seorang saat hampir mendekati kelulusannya justru mengambil cuti. Seorang lagi mengambil cuti karena bekerja di bengkulu bersama suaminya. Seorang lagi sudah hampir seminar hasil bahkan sidang. Yang lain lagi bersantai dan menjalani dengan saksama.

Setiap orang mempunyai pilihan hidup masing-masing. Tentunya itu semua sudah harus dipikirkan matang-matang.

Jikapun ada yang berkomentar ini itu. So what? It's my life. Aku yg menjalani, dan aku pula yang bertanggung jawab atas apa yang kulakukan.
Tapi, jangan lupa. Aku, kita saling memberi pendapat, mungkin ini atau itu lebih baik kamu kerjakan dulu sebelum yang lainnya.

Untuk sahabat-sahabatku, aku berteman denganmu bukan karena saat aku butuh. Tetapi karena aku merasa nyaman, yeah.. you are my friend.

Dan meski raga kita terpisah jauh, hati kita selalu satu..
Tetap semangat yaa

Sabtu, 21 Juni 2014

Hai, Rei?!

Aku senang bermimpi.
Aku senang menuliskan mimpi-mipiku pada kertas, dan kutempelkan pada sebelah dipanku agar setiap sebelum tidur aku bisa membacanya dan berdoa agar semuanya terwujud. Karena aku senang bermimpi, aku pun senang untuk tidur.
Tetapi... mimpi-mimpi ini justru membuatku gila.



Ngilu terasa di pelipis kananku. Sedikit kusentuh, rasanya semakin sakit. Badanku mulai basah oleh keringat. Di punggung tangan, bawah mata dan dahiku. Suara ramai orang-orang dari luar kamar membuatku membuka mata. Apa yang baru saja terjadi? Aku mulai bingung dan mengerjap-ngerjapkan mataku..


“Sudah, nanti saja bangunnya. Capek ya?”

Suara lagu pop serta berisiknya orang-orang sedang makan terdengar di telingaku. Kulihat di kamarku terdesain indah layaknya kamar seorang pengantin. Dan.. seorang pria muncul di pintu kamar dengan tergopoh-gopoh tersenyum lembut, hangat dan menatapku begitu dalam. Aku masih belum paham. Aku...

"Ini..ada..apa, Ma?”, ucapku terbata-bata pada mama yang berhias sangat cantik dengan kebaya berwarna merah marunnya.

Mama hanya tersenyum. Kulihat diriku memakai gaun pengantin berwarna merah yang sangat indah dan begitu kuimpikan. Sesuai dengan desain yang kubuat saat .. saat...

“Aku..aku...?”,ucapku terbata dengan rasa takut.

“Sayang, kamu kenapa? Rei, kemarilah!”,kata ibu kepada seorang pria yang sedang berdiri di pintu.

Nafasku mulai tak teratur. Rasanya aku ingin berteriak ‘APA YANG SEDANG TERJADI?’

“Nak, tadi kamu tiba-tiba tertidur setelah Rei mengucap sumpah setia di atas Al-Qur’an. Kamu terlalu bahagiakah sampai-sampai seperti itu? Mama cemas, juga geli sekali”,jelas mama.

“Bukannya aku, aku sedang tidur di kamar tadi? Kok tiba-tiba aku..“

“Ya, tapi masa tidur di acara sakralmu itu? Mama tau sih, kamu seneng banget tidur. Dasar ya kamu ini! Hahaha..”,kata mama sambil terbahak.

Aku benar-benar masih tak percaya. Bukan! Ini mimpi! Tidak! Aku belum menikah. Seingatku, semalam aku beranjak untuk tidur. Tetapi, kenapa aku sekarang sudah ada di pelaminan? Aku semakin tak tenang, aku beranjak dari kasur dan menengok keluar kamar. Kulihat foto ‘pre-weddingku’ dengan seseorang yang kulihat di kamar tadi. Siapa namanya? Rei? Hah, aku tak tahu siapa dia. Segera kucubit tanganku dengan keras. Begitu juga teriakan rasa kesakitanku.

“Nak, kamu kenapa?”,teriak mama.

“Ma, katakan padaku yang sejujurnya! Aku mohon!”,ucapku hampir terisak.

“Kamu ngomong apa, Dinda?”,tanya mama heran.

“Aku hanya bermimpi kan? Setahuku, terakhir kali kuingat, aku beranjak ke kasur untuk tidur malam. Dan aku memang berniat keesokannya untuk menghadiri pernikahan temanku. Tetapi.. kenapa... aku yang menikah?”,ucapku tak karuan.

Pria yang ada di sebelahku tertawa kecil. Matanya berputar layaknya menertawakanku karena aku seperti orang kecil.

“Hush! Kamu ini ‘ngaco’ ya? Sembarangan! Hei, Rei sudah sah jadi suamimu. Ini Rei! Yang kamu kenalkan pada mama usai kamu pulang kerja beberapa bulan yang lalu. Bahkan kamu sangat senang ketika Rei melamarmu. Apa kamu tak ingat, Nak?”,tanya mama.

Kuamati lekat-lekat pria yang bernama Rei. Dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seorang pria berkacamata, memiliki sedikit janggut, hidungnya mancung, rambutnya sedikit ikal dipotong pendek, tingginya mungkin sekitar 170cm, lengkap dengan pakaian pengantin pria. Ia tersenyum tulus. Hangat.

“Ma, apa aku boleh..emm..boleh.. tidur lagi?”ucapku lirih.

“Hah? Kamu ngomong apa? Tamu-tamu sudah banyak di depan. Kamu mau tidur? Ya ampun, permohonan macam apa sayang? Oh tidak!”,ucap mama.

“Aku pikir, aku sekarang sedang bermimpi. Aku pikir aku .. aku..sebenarnya masih sendirian dan ingin fokus bekerja saat itu. Tetapi aku tak mengira, sekarang aku sudah ada di pelaminan. Bahkan sudah bersuami. Aku bingung ma. Aku bingung..”,ucapku tersedu.

“Tante, mungkin Dinda butuh istirahat sebentar. Mungkin ia kecapekan. Jadi bagaimana jika kita tinggalkan ia dulu untuk beristirahat. Lagipula tadi kepalanya juga sedikit terbentur meja”,ucap Rei.

Aku kembali memandangnya. Rei. Aku bahkan tak pernah bertemu bahkan mengenalnya. Latar belakangnya, umurnya, pekerjaannya. Dan aku tak merasa mengenalkannya pada mama. Tetapi mengapa ia sangat mengenalku?

“Baik. Beristirahatlah. Sebentar saja!”,ucap mama singkat.

Mereka berdua pun keluar dari kamarku sambil menutup pintu rapat-rapat. Kupandangi lagi sekeliling kamarku. Bahkan kupastikan kembali apakah ini benar-benar kamarku. Dan.. yah..ini benar kamarku. Kulihat beberapa kertas tertumpuk di dalam lemari. Kertas-kertas mimpiku. Setiap mimpiku yang tercapai biasanya kucoret sebagai tanda sudah tercapai. Dan mimpi ke-28? Sudah kucoret? Mataku membelalak dengan mulut menganga. Kapan aku mencoret mimpiku yang ke-28 ini? “MENIKAH SEBELUM UMUR 27 TAHUN”.

Aku terkejut bukan kepalang. Memang benar aku belum berumur 27 tahun. Tetapi kenapa aku menuliskan ini? Bisa saja aku menikah saat berumur 18 tahun, 21 tahun, dan sekarang.. aku berumur.. kucari handphoneku di setiap sudut kamar. Dan kutemukan di dalam lemari bahwa sekarang tanggal 21 Juni 2014. Aku terbelalak. Berarti dua minggu lagi aku genap berumur 27 tahun? Aku jatuh terduduk.

Kembali kuhela napas panjang. Kutenangkan diriku. Mencoba menerima ini semua. Ya, ini bukan mimpi. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ya, aku harus membenahi dandananku dan keluar untuk merayakan hari sakralku ini.

Kubuka pintu kamar perlahan. Orang-orang sudah ramai lalu lalang. Saudara-saudaraku sudah menungguku di luar. Satu persatu mereka memberiku ucapan selamat dan menanyakan kondisiku. Aku hanya tersenyum. Jauh di lubuk hatiku terdalam, aku berkata’ini hanya mimpi, nikmati saja’. Tetapi ini nyata, aku masih belum bisa mengartikannya

Tak lama aku bersanding dengan pria bernama Rei di kursi pelaminan. Bersalaman dengan para tamu. Undangan begitu ramai sekali. Sepertinya Rei adalah orang kaya. Lagipula jika aku sekarang bersuami, Rei tidak buruk dan aku pikir dia adalah lelaki idaman. Senyum licik terlukis di wajahku.

Tak terasa hari sudah malam. Mereka bilang malam pertama adalah malam yang menyenangkan. Tetapi tidak bagiku untuk saat ini! Sudah kuputuskan, aku tak..

“Sudah, nggak usah takut. Mungkin kamu terlalu capek. Malam pertama bisa kita lakukan malam selanjutnya bukan? Tidurlah sayang”,ucap Rei lembut.

Aku mulai tertidur, berharap..berharap..berharap..

“Dinda!!! Bangun!”,teriak mama.

Perlahan kubuka mataku. Kamarku? Jantungku berdetak kencang. Aku langsung terbangun. Tak ada kamar pelaminan. Tak ada Rei.. Dimana dia? Aku benar-benar panik mencarinya.

“Ma, mana Rei?”,tanyaku ragu.

“Siapa itu Rei? Cepatlah bersiap-siap! Bukannya kamu mau pergi ke pernikahan temanmu?”,tanya mama.

Aku kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Kulupakan sejenak pikiranku tadi. Sebentar lagi Sinta menjemputku.

TIINNNN...
Suara klakson terdengar dari luar.

Aku segera masuk ke dalam mobilnya. Dan, kulihat pria itu ada di dalam mobil Sinta. Aku tertegun cukup lama.

“Dinda! Kenalin ini Rei, tunanganku. Baru saja lulus S2 dari Itali kemarin. Hehe..”,jelasnya.

Wajahku pucat seperti telur busuk. ‘Apa aku tertidur lagi? Ini mimpi kan?’

Rabu, 28 Mei 2014

lagi, lagi, dan lagi.pffftt!!

gorong-gorong vs perekonomian indonesia.
Begitulah yang dapat kusimpulkan dari maraknya berita cawapres 2014 ini. Berbagai dukungan dan celaan muncul ketika kuketikkan kata kunci Jokowi dan Prabowo do duatu situs internet.


Black campaign. Yah, kata itu yang semakin terpampang nyata(halaah), mendekati pemilu presiden 9 Juli nanti. Dan kian hari aku semakin muak dengan kalimat-kalimat yang ada pada tiap situs internet. Gimana nggak? Aku adalah salah satu masyarakat Indonesia, yang sudah berumur 22 tahun dan berhak memilih pemimpin negaranya nanti. Apa salah jika aku ingin mengenal capres/ ta'aruf 2014 ini tanpa adanya pengaruh "cuap-cuap" keluarga maupun teman?


Sangat disayangkan. Aku justru kecewa. Why? Karena hanya kekuranganlah yang begitu ditonjolkan. Sehingga aku kira tak ada cawapres yang layak memimpin negara kita. Sedangkan aku adalah orang yang anti golput.


Lihatlah! Rakyat Indonesia, medsos semakin ambisius dan bersemangat untuk memberitakan keburukan lawan hanya untuk menaikkan pamor dukungannya. Sangat tidak cerdas! Kenapa harus keburukan yang dicari-cari?
Hal ini sangat sangat sukses meningkatkan emosi masyarakat Indonesia. Selamat! Komentar para pembaca saling serang tak karuan dengan KATA-KATA KOTOR yang menurutku itu tak layak mereka ucapkan. Belum lagi wilayah Indonesia yang sedang dilanda musim kemarau semakin membuat gerah hati ini#opo meneh iki.


Apakah dengan saling serang seperti itu menunjukkan mereka yang menang?
Apakah dengan saling mengumpulkan berita negatif lawan sebanyak mungkin memperlihatkan bahwa idola mereka yang terbaik?
Lalu, apakah sadar? Ketika cawapres 2014 yang maju hanya 2 orang, secara tak langsung rakyat Indonesia terbagi menjadi 2 bagian!!! Negara Prabowo dan negaranya Jokowi. Kalo perlu pilih negara golput!!
Inikah yang dimaksud Indonesia bersatu? Yang semakin lama beberapa bagian dari Indonesia memisahkan dirinya dari NKRI dan membuat negara sendiri. Ternyata inilah jawabannya. Jawaban kongkrit..krit..krit..


Untung saja tak terjadi pertumpahan darah. Atau belum? A'udzubillahimin dzalik. Imajinasiku sempat melayang ketika terdapat geng Prabowo dan geng Jokowi. Layaknya anak SMP, SMA, mereka tawur begitu saja.


Saudaraku..kembali kuingatkan pada kalian. Aku juga berdoa untukmu, kita, dan mereka serta negara ini. Kita disini sama-sama menginginkan yang terbaik untuk Indonesia sehingga nantinya kita sebagai rakyat Indonesia bangga dengan negara kita. Dengan peraturan, dengan sistem, dengan seluruh pemerintahan yang mungkin itu adalah di suatu hal yang impossible. Karena terlalu banyak kerusakan di negara ini. But, i think not! Karena tak ada yang tak mungkin di dunia ini.


Setiap manusia pasti mempunya kelebihan dan kekurangan. Tak beda halnya dengan Jokowi dan Prabowo. Begitu pula saat mantan presiden kita, Soekarno, Soeharto, BJ Habiebie, Gus dur, Megawati, SBY. Ketika kita berada di jaman Soeharto kita mengeluh dan sangat senang dengan adanya presiden yang berikutnya. Namun kemudian kita kembali mengeluh, sampai-sampai saat ini (jaman SBY) timbul slogan "Enak jamanku tho?". Why? Lalu siapa yang salah? Apakah ini yang disebut menyesal? Jika memang tak nyaman dengan Soeharto kenapa menginginkan yang lain. Lain, lain, lain dan yang lain?


Sekali lagi. Manusia diciptakan memang untuk sering mengeluh. Hal ini ada juga ada pada Al-Qur'an pada surat Ali-Imran. Mereka tak pernah puas dengan apa yang didapatkannya.
Teman.. Jika memang kalian mendukung idola masing-masing, ya sudah dukunglah! Cobloslah gambar hidung, mata/ mulut sedalam mungkin ketika pemilu tiba. Tak perlu kalian munculkan sikap emosional yang tak sedap dipandang dan didengar itu. Hanya merugikan kalian. Udah memunculkan kesan tak cerdas, tak bermoral, dosa pula!


Pilihlah yang terbaik. Meski media pun susah sekali yang dapat dipercayai. Listen to your heart..
Indonesia.. proud of you

Senin, 26 Mei 2014

Kopi dingin

Aku sungguh tak mengerti jalan fikirannya. Aku serba salah sekarang. Menangani seorang laki-laki berumur 14 tahun yang sedang mencari jati dirinya. Bah! Apa itu mencari jati diri?

"Kudengar hari ini kamu akan pergi dengan temanmu?",tanyaku.
"Ya, seperti itulah.. Nanti dia akan mampir ke rumah"


Tak lama, ia bertanya padaku. "Boleh minta uang 5 dolar saja?"
"Untuk apa?"
"Ya, untuk sekedar bermain"


Aku telah mendengar semua percakapannya dengan temannya itu. Meskipun hanya samar-samar kudengar. Cat, lari, dan ijin.
"Kamu ingin membeli cat? Memang berapa harganya?"
"Iya, harganya sekitar 2 dolar"
"Lalu, kenapa kamu meminta 5 dolar? bukankah teman-temanmu banyak? Bukannya kamu patungan?"


Dengan kikuk ia mengatakan bahwa semua dilakukan untuk bermain.
"Kamu mau mencoret-coret tembok orang?"
"Tetapi ijin kok",sanggahnya.
"Lalu kalau tak diijinkan? Dan tentu saja tak ada orang yang mengijinkan tembok rumahnya untuk dicoret-coret seperti remaja-remaja kalian. Bagaimana jika orang itu tak mengijinkan? Kenapa tak kalian coret-coret saja tembok rumah temanmu? Atau tembok rumahmu?", saat itu aku benar-benar sangat emosi. Bukan karena berapa besar jumlah uang yang diminta, bukan!


"Serius? Benarkah aku boleh mencoret-coret tembok rumahku?"
"Huh!! Tanya saja sama mama yang sedang sibuk bekerja di kota. Jelas kau akan kena marah!"
"Tapi kak, ini adalah seni. kamu tahu tidak?"
Dengan sigap ia mengambil beberapa uang simpanan yang telah disiapkan mama di lemari apabila tiba-tiba dibutuhkan dengan keadaan mendesak.


"Lain kali, akan kutukar uang ini!"
"Hei!!! Apa kamu tahu? mengapa aku enggan meminjamkanmu? Karena aku tak ingin kau seperti remaja udik yang sembarangan mencoret-coret tembok orang! Dikejar polisi aku tak mau tahu!"
Kuamati ia dari balik jendela kamarku. Aku begitu geram melihat tingkahnya. Kudengar temannya bertanya mengapa raut wajahnya tiba-tiba berubah setelah dari dalam. Dan tak lama ia kembali masuk ke kamar.


"Ini, kukembalikan uang mama. Dan aku tak akan mencoret-coret tembok orang!!!Aku pergi"
Ia pergi dengan raut wajah kesal. Aku rasa begitu.
Aku hanya kembali berdiam diri. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku begitu menyayanginya. Hanya saja aku tak mengerti bagaimana untuk membuatnya sedikit saja bahagia dengan benar.
Kuteguk kembali kopi yang sudah dingin di depanku..

Rabu, 14 Mei 2014

suatu waktu, pasti!

Indah itu tak slalu di awal. Tapi yg paling penting adalah di akhir. Kenapa? Karna ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan, kita pasti melalui proses. Jatuh, bangun, tangisan, kucuran keringat, sakit hati, pasrah, dan sebagainya. dari semua proses itu, terkadang kita tak menyadari apa arti semua ini. Apa pesan dari semua ini. Ketika kita mulai memahaminya, dan mengerti..Lihatlah..Kebahagiaan yang kamu inginkan dapat kamu rasakan. Bahwa semua itu melebihi dari apa yg kamu inginkan...
sedikit berbagi cerita lewat susunan kata menjadi sebuah kalimat yang kuketik untuk kalian..

Hari ini adalah hari rabu, 14 mei 2014. Pagi hari ketika aku akan berangkat kuliah, aku begitu panik. Barang yang kucari menghilang tanpa bekas. Kamera. Ya, kamera yang selama ini kugunakan untuk memotret isolat jamurku yang kelak akan menjadi bahasan dan rincian dari skripsiku(red:penelitian).

Hasil jepretan yg sedemikian rupa belum kupindahkan ke laptopku. Andai saja kau tau, tak semudah menelan ludah untuk mendapatkan jepretannya, sehingga ia (jamur Fusarium) tumbuh sempurna tanpa kontaminasi hingga memenuhi 1 petridish (tempat pembiakan).
#Penelitianku ini sudah berjalan kurang lebih 6 bulan.

Pagi itu, kuketikkan beberapa sms yg kusebar pada teman2ku yg biasa menghuni laboratorium tempat biasa aku melakukan penelitian. Tetapi jawaban mereka, nihil. Tak melihat kameraku. Bahkan kalaupun ada tertinggal tidak akan hilang. Temanku yg terakhir berada disitu dan membereskan ruangan tak melihatnya hingga malam hari.

Dengan langkah gontai aku terus mengelilingi setiap sudut laboratorium itu. Dalam hati, "apa aku harus memulainya lagi dari awal?"
Kalimat2 yg di ucapkan teman2 saat itu tak membuatku sedikit lebih tenang. Mungkin hanya senyuman dan candaan bersama teman2 yg kulakukan. meskipun, dalam hati aku sudah tak tau harus bagaimana lagi.

Dua hari sebelumnya, beberapa kali aku sempat melirik kotak infaq yang selalu ada di mushola. Tetapi tangan ini tak melakukan apa yang disampaikan hati kecilku ini.

Beberapa hari sebelum kejadian ini pun aku membaca ayat Al-Qur'an dengan artinya. Entah, ini suatu kebetulan atau apa, menjelaskan untuk selalu bersedekah. Bukankah semua yang di dunia ini adalah milik-Nya? Dan alangkah menyesal manusia nanti ketika ajal menjemputnya. Karena mereka telah menimbun harta mereka. Andai saja ia bersedekah saat masih hidup. Harta itu tak akan mereka bawa mati nanti.

Matahari perlahan mulai membenamkan diri. Cahaya jingganya sedikit redup tertutup oleh mendung yang mulai datang. Aku pulang ke rumah dan kembali kuperiksa setiap sudut ruangan kamarku. Hasilnya tetap nihil. Kuingat kembali hari sebelumnya, jelas2 hari selasa aku bawa dan masukkan ke dalam tas.

Bersamaan dengan warna jingga yang terlukis di langit, dan mendung yang kian menghitam. setitik air mata jatuh di pipiku. Tak hanya setitik, ia diikuti oleh tetesan air mata yang terus keluar seusai solat asarku sore ini. Bukan karena kameraku yang hilang, bukan..

Aku sangat menyesal, mengapa tangan yang diciptakan Tuhan dengan sempurna ini tak sesuai dengan keinginan sang hati? menginfaqkan sedikit uang? memberikan sebungkus nasi yang biasa diberikan kepada orang kurang mampu yang biasa duduk di pinggir sungai kampus? memberikan sedikit receh kepada orang kurang mampu?

Perlahan, aku menyadari. Aku mengimani sekali lagi, semua yang ada di dunia ini bukanlah milikku. Aku juga mengikhlaskan dengan dokumentasi hasil skripsiku. Mungkin Tuhan ingin agar aku lebih rajin mengerjakan penelitian di laboratorium.

Hari mulai gelap. Empat sms masuk bertubi-tubi. mungkin indosat sedang trouble di daerahku. Pesan singkat dari seseorang bak malaikat memberitahu padaku, bahwa ia lupa memberitahuku jika kameraku ada di laboratorium sebelah. Entah siapa kemarin yang memakainya dan ditinggal begitu saja...

Sujud syukur kulakukan atas pertolongan yang telah Dia berikan. Ya, semua ini adalah rangkaian kehendak-Nya. Sebelum aku mendekatkan diri, sebelum aku menyadarinya, sebelum aku menangisi atas kesalahanku, Allah menunda untuk memberikan suatu yang begitu indah untuk kumengerti dalam hidup ini.
Alhamdulillah ya Allah...
tak lupa, aku menawarkan kepada orang itu untuk kutraktir makan..hehe ^^v
apakah aneh? ia kemudian menanyakan apakah aku sedang sehat??

terima kasih untuk kamu..